Semangkuk Mi di Hari Kamis
Bagi anak-anak usia sebelas tahun di Kampung Sukabetah, tidak ada ketukan palu yang berdegup lebih memburu selain pada hari Kamis petang.
Kampung yang terletak di wilayah Desa Sukasejahtera, Kecamatan Sukamakmur itu bertengger di dataran tinggi yang sejuk. Di pelataran pabrik penggergajian kayu milik Haji Bakri, sebuah truk Colt Diesel berbak kuning kusam sudah terparkir mundur. Mesin dieselnya meraung kasar memuntahkan asap tipis kelabu, bersiap mengangkut muatan sayur malam itu juga menuju pasar induk di kota. Sopir truk sesekali melirik jam tangan seraya menyandarkan bahu di pintu kemudi. Waktu tidak pernah mau berkompromi.
Di dalam bangsal terbuka, raungan gergaji pita membelah gelondongan albasiah tanpa jeda. Udara pengap bercampur serbuk kayu kuning melayang pekat serupa kabut di bawah sorot cahaya senja yang menerobos atap seng berlubang. Di sudut lantai tanah, tumpukan bilah reng masih menggunung, menunggu dirangkai menjadi peti penampung tomat sebelum muatan dinaikkan.
“Tinggal dua puluh peti lagi, Jang!” seru Cecep setengah berteriak menembus bising mesin. Keringat mengalir deras di pelipisnya, diseka sekenanya dengan ujung kaus oblong yang sudah dekil. “Truk Mang Dudung keburu berangkat kalau kita lelet!”
Ujang tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk cepat, merogoh kantong celana pendek seragam merah-putihnya yang kusam untuk mencengkeram segenggam paku reng. Tangan kanannya mengayunkan martil usang bergagang kayu jati yang licin oleh keringat. Tuk… tuk… crak! Paku-paku itu amblas ke urat kayu albasiah yang basah.
Di sampingnya, Solihin sibuk memotong lempengan plat seng tipis selebar dua jari. Tugas Ujang dan Cecep adalah ngeser—menekuk plat seng itu pada tiap sudut siku peti, lalu memakukannya kuat-kuat agar peti tidak pecah saat dibanting kuli angkut di pasar induk nanti. Pekerjaan tangan yang menuntut kecepatan kilat sekaligus ketelitian penuh.
Aduh!
Cecep mendesis tertahan. Ujung plat seng yang tajam menyayat kulit jempol kanannya. Garis merah darah segar seketika merembes, menetes di atas serbuk gergaji.
Ujang refleks menahan pergelangan tangan sahabatnya, sementara Solihin yang tanggap langsung melesat ke pinggir parit di luar bangsal pabrik, tempat rumpun pohon pisang tumbuh liar. Dengan sekali sentakan cekatan, Solihin mematahkan pelepah pisang muda, membiarkan cairan getah beningnya yang kental mengalir keluar.
Dari arah meja ukur, Mang Udin melangkah mendekat dengan santai seraya mengisap rokok kreteknya. Pria bertubuh gempal berwajah teduh itu mengambil patahan pelepah dari tangan Solihin, lalu meneteskan dan meratakan getah pekat itu tepat di atas luka Cecep yang menganga. Rasa perih dingin seketika menggigit daging, namun perlahan darah segar itu mampet, terkunci rapat oleh lapisan getah yang mengering kecokelatan.
“Tahan perihnya sedikit,” ujar Mang Udin seraya menepuk pundak Cecep. Suaranya serak berpadu desis tembakau. “Getah pisang obat paling mujarab buat luka seng. Anak petani bilik bambu tangannya memang harus tahan banting. Nanti lukanya juga rapat sendiri. Masih sanggup bereskan sisa peti?”
Cecep mengangguk mantap sambil meringis kecil menahan denyut di jarinya. “Sanggup, Mang!”
Bagi mereka, menyerah di hari Kamis adalah pantangan. Uang upah mingguan sore ini terlalu berharga untuk dilewatkan.
Sejak lonceng sekolah dasar berdentang siang tadi, mereka tidak langsung pulang bermain. Kehidupan anak-anak buruh tani dan pekebun sayur di dataran tinggi telah mengajarkan arti peluh sejak dini. Kampung mereka bertengger di ketinggian yang sejuk, tetapi setiap kali musim kemarau menyapa, sumur-sumur galian di samping rumah bilik bambu mereka mengering menyisakan tanah retak. Mereka sudah terbiasa memikul ember turun melintasi jalan setapak berbatu menuju ceruk mata air di lereng bawah, lalu meniti tanjakan terjal membawa beban air bersih pulang ke rumah. Beban kayu dan derit seng hari ini adalah kelanjutan dari napas panjang itu.
Pukul lima kurang seperempat, deru mesin gergaji pita perlahan mereda hingga padam seutuhnya. Derak bilah kayu terakhir tersusun rapi. Dua puluh peti tomat pesanan sudah tegak kokoh di atas bak truk Colt Diesel, lengkap dengan plat seng yang mencengkeram kuat di tiap sudutnya.
Mang Udin duduk di bangku panjang kayu mahoni, membuka buku tulis bergaris bersampul batik lusuh. Satu per satu buruh dewasa maju menerima amplop mereka. Ketika giliran Ujang dan kawan-kawannya tiba, Mang Udin menatap ketiga bocah itu dengan senyum tipis di balik kumis tebalnya.
“Kerja kalian beres dan rapi,” kata Mang Udin seraya mengangsurkan beberapa lembar uang kertas ribuan bergambar Danau Toba serta kepingan uang logam seratus rupiah bergambar karapan sapi.
Uang kertas itu terasa hangat, menebarkan aroma khas serbuk albasiah dan tembakau. Ujang menerimanya dengan takzim, menyalami punggung tangan kasar sang mandor.
Sebagian besar lembaran rupiah itu ia lipat rapi dan ia simpan di saku paling dalam untuk diserahkan ke rumah. Namun, deretan uang logam seratusan yang berdenting di saku depannya memiliki takdir yang berbeda. Sebuah ritual kemenangan yang wajib ditunaikan.
Sore itu, mereka menunda adu gundu di tanah lapang. Dengan langkah tegap berbalut debu kayu dari ujung rambut hingga betis, Ujang memimpin kedua sahabatnya menuju warung kelontong Bi Sumi di dekat jembatan.
“Bi, beli mi instan kuah kaldu ayam tiga bungkus. Sama telur ayam mentah tiga butir,” ujar Ujang lantang.
Di masa itu, bagi anak-anak bilik bambu yang terbiasa makan berlauk asin peda dan lalap pucuk singkong rebus, sebutir telur ayam utuh adalah lambang kemewahan. Telur hanya hadir saat ada tetangga yang menggelar hajatan kenduri atau hari raya Idul Fitri tiba. Mampu membeli telur ayam utuh dari hasil memaku peti dan ngeser plat seng adalah puncak pencapaian tertinggi pekan itu.
Pesta digelar di dapur belakang rumah Solihin. Dapur itu berlantai tanah liat padat, diterangi cahaya petang yang menerobos sela bilik bambu bolong. Menggunakan tungku bata dengan bahan bakar bilah kayu reng sisa pabrik, air di dalam panci seng belang-belang mendidih cepat.
Ujang menuangkan bumbu gurih ke dalam tiga mangkuk kaleng loreng hijau. Begitu untaian mi mengembang, tiga butir telur diceplokkan utuh ke dalam pusaran air bergolak.
“Jangan diaduk kuahnya, Cep! Biar telurnya bulat sempurna!” seru Solihin panik sambil meniup abu tungku yang berhamburan.
Ketika uap sedap bumbu kaldu dan aroma gurih telur rebus memenuhi dapur sempit itu, rasa lapar yang menekan perut sejak siang seolah terbayar tunai. Mereka membawa mangkuk kaleng itu ke atas bale-bale bambu di depan pekarangan.
Duduk bersila beralas celana pendek kumal, jemari yang masih menghitam oleh jelaga paku memegang erat sendok bebek seng. Mereka menyeruput kuah panas yang gurih membakar lidah, lalu menggigit putih telur yang lembut dengan lelehan kuning telur setengah matang yang gurih tiada tara. Tawa renyah mereka pecah di sela kunyahan, menertawakan jempol Cecep yang tadi berdarah diobati getah pisang dan jempol Ujang yang sempat menghitam dihantam martil.
Di kejauhan, kabut dingin mulai turun menyelimuti perkampungan dataran tinggi itu. Suara bedug magrib dari surau tua terdengar mengalun merdu, memanggil warga menunaikan kewajiban.
Pesta Kamis itu ditutup dengan dasar mangkuk kaleng yang licin tandas. Sejenak kemudian, mereka bergegas menuruni lereng menuju pancuran pemandian umum, membilas sisa daki dan serbuk gergaji dengan segarnya air mata air pegunungan yang menusuk tulang, lalu melangkah ke surau untuk mengaji hingga larut malam.
Malam harinya, setelah pulang dari surau, suasana rumah berdinding bilik itu terasa sunyi. Nyala api lampu teplok di tiang kayu bergoyang pelan ditiup angin malam yang dingin menyelinap dari celah anyaman bambu. Di atas tikar pandan, Ujang mendekati Emak yang sedang melipat kain sarung usang. Tanpa banyak bicara, tangan mungil Ujang merogoh saku dalam, mengeluarkan lembaran uang kertas ribuan lecek hasil memaku peti, lalu menyelipkannya ke telapak tangan Emak yang kasar kapalan.
Emak tertegun menatap lembaran uang di tangannya. Matanya yang cekung berkaca-kaca menahan haru. Tanpa mengucap sepatah kata pun, tangan dingin perempuan bersahaja itu terangkat, mengusap kepala Ujang dengan lembut dan lama—sebuah doa tanpa suara yang melesat lurus menembus langit malam.
Jika malam itu bertepatan dengan siaran tinju dunia, kebahagiaan mereka akan berlanjut di ruang tamu Pak RT—satu-satunya warga berpunya yang memiliki televisi hitam-putih empat belas inci dengan antena bambu menjulang tinggi. Bersama puluhan warga yang duduk berdesakan beralas tikar pandan, Ujang dan kawan-kawannya bersorak girang menyaksikan bogem mentah Mike Tyson merobohkan lawan, menghangatkan dinginnya malam dataran tinggi dengan kepulan asap rokok lintingan dan tawa persaudaraan warga.
Tahun-tahun 1993 itu telah puluhan tahun berselang di belakang punggung waktu.
Namun bagi Ujang, aroma gurih mi rebus bertelur di petang hari Kamis itu tak pernah sedetik pun memudar dari ingatannya. Rasa nikmat itu abadi—sebuah kenikmatan murni yang tidak pernah didapat dari jalan pintas atau kemudahan cuma-cuma, melainkan ditebus lunas oleh kejujuran peluh di ujung bilah kayu.
Sukabumi, September 2026

3 komentar untuk "Semangkuk Mi di Hari Kamis"