Gotong Royong Modern: Menjalin 5 Pilar (Pentahelix) untuk Selesaikan Masalah Publik
Dahulu, kata "gotong royong" langsung membuat kita membayangkan aksi warga di hari Minggu: bersama-sama membersihkan selokan, memperbaiki jembatan bambu yang rapuh, atau mengecat pos ronda. Itu adalah modal sosial (social capital) luar biasa yang menjadi DNA bangsa kita.
Namun, mari kita jujur melihat realita hari ini. Masalah publik yang kita hadapi di era modern jauh lebih kompleks. Urusan pengentasan kemiskinan, penurunan angka stunting, hingga perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) tidak bisa lagi diselesaikan hanya dengan modal sekop, cangkul, atau sekadar mengandalkan proposal bantuan anggaran yang diajukan ke pemerintah.
Padahal, anggaran pemerintah itu terbatas, dan birokrasi sering kali terbentur aturan serta waktu tunggu yang kaku. Pemerintah bukan superhero yang bisa membelah diri untuk mengurus setiap jengkal urusan warga secara instan.
Di sinilah Gotong Royong Modern masuk. Kita perlu merajut 5 Pilar Utama untuk duduk bersama dalam satu meja demi menyelesaikan masalah publik:
- Pemerintah (Government): Sebagai fasilitator, pembuat regulasi, dan pembuka jalan yang memotong sumbatan birokrasi.
- Akademisi & Lembaga Mitra (Academia/Institution): Termasuk lembaga penunjang kebijakan publik dan filantropi resmi yang kredibel.
- Dunia Usaha & Agniya (Business/Philanthropy): Sektor swasta serta para dermawan perorangan yang mengulurkan tangan secara profesional dan fleksibel.
- Komunitas & Relawan (Community): Sebagai jantungnya—aktor lokal, tokoh masyarakat, dan relawan yang menjadi ujung tombak eksekusi di lapangan.
- Media (Media): Sebagai pengeras suara (amplifier) yang menyebarkan transparansi sekaligus menginspirasi gerakan kebaikan secara luas.
Belajar dari Cibadak: Inovasi "KOPI MASAL"
Teori Pentahelix ini bukan sekadar konsep di atas kertas. Jika kita ingin melihat bagaimana teori ini hidup dan bergerak menghasilkan dampak nyata, kita bisa menengok ke Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi.
Dalam menangani permasalahan sosial yang sensitif dan krusial seperti Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu), Kecamatan Cibadak merintis sebuah program inovatif bernama KOPI MASAL (Kolaborasi Penanganan Masalah Sosial).
Melalui KOPI MASAL, penanganan Rutilahu tidak lagi diletakkan di pundak pihak kecamatan sendirian, melainkan digerakkan bersama oleh lima elemen taktis:
- ASN, Aparatur Kecamatan, beserta Lurah dan Kepala Desa: Hadir di garda depan sebagai penggerak roda administrasi, melakukan validasi data rutilahu, dan memberikan legalitas agar program berjalan tepat saran.
- Dunia Usaha dan Pengusaha Perorangan/Agniya: Menjadi motor penggerak material dan finansial. Keterlibatan para agniya (orang berkecukupan/dermawan lokal) memberikan sentuhan moral yang kuat, membuktikan bahwa kepedulian sosial masih hidup subur di tingkat akar rumput.
- BAZNAS: Masuk sebagai mitra strategis pengelola dana umat yang akuntabel, memastikan penyaluran bantuan sosial berjalan transparan, bersih, dan berlipat ganda dampaknya.
- Relawan dan Masyarakat: Bertindak sebagai otot dan jantung gerakan. Mereka menyumbangkan tenaga, waktu, dan keahlian gotong-royong secara fisik untuk membangun kembali rumah yang layak bagi sesama.
- Media: Menjadi jembatan informasi yang mengabarkan pergerakan ini kepada publik, menjaga transparansi, sekaligus memicu gelombang empati yang lebih luas di Kabupaten Sukabumi.
Hasilnya? Rutilahu yang tadinya membutuhkan waktu tunggu birokrasi berbulan-bulan kini bisa diselesaikan secara taktis melalui jalinan kepedulian bersama yang cepat dan tepat.
Tantangan Terbesar: Menurunkan Ego Sektoral
Menyatukan berbagai elemen seperti dalam program KOPI MASAL tentu memiliki tantangan tersendiri. Musuh terbesar dari Gotong Royong Modern adalah ego sektoral dan formalitas yang kaku.
Keberhasilan di Cibadak menunjukkan bahwa birokrasi yang adaptif adalah birokrasi yang mau membuka pintu, duduk setara, dan melebur bersama sektor swasta, lembaga seperti Baznas, para agniya, dan relawan kemanusiaan. Di sisi lain, warga tidak lagi menjadi penonton pasif yang hanya bisa mengkritik, melainkan ikut berkeringat memberikan solusi nyata.
Penutup: Menenun Benang Kemajuan
Keberhasilan kemajuan suatu daerah hari ini tidak lagi diukur dari seberapa banyak lembar peraturan yang berhasil dicetak, atau seberapa megah gedung pemerintahannya. Indikator utamanya adalah seberapa kokoh jembatan kolaborasi yang berhasil dibangun antar-aktor di dalamnya.
Satu helai benang mungkin akan sangat mudah putus. Namun, ketika lima helai benang ditenun bersama dengan erat—seperti yang telah dibuktikan melalui jalinan KOPI MASAL di Cibadak—ia akan menjadi hamparan kain yang kuat menahan beban zaman dan membawa kesejahteraan yang nyata bagi masyarakat.
Mari kita mulai dari wilayah kita masing-masing. Sudahkah kita mengambil peran dalam lima pilar ini?
#IlmuPemerintahan #KolaborasiPentahelix #KopiMasalCibadak #Sukabumi #GotongRoyongModern #InovasiDaerah #TataKelolaPublik #Baznas #AgniyaBergerak
Tentang Penulis:
Mulyadi | ASN Pemerintah Kabupaten Sukabumi. Seorang pembelajar yang aktif menuangkan gagasan tata kelola publik dan inovasi lokal demi mendukung kemajuan Kabupaten Sukabumi.

Komentar
Posting Komentar