Secangkir Teh di Beranda Retak

 


Pukul delapan malam. Dari balik dinding kaca lantai tiga puluh empat sebuah gedung perkantoran di kawasan Sudirman, denyut Jakarta meredup perlahan. Ribuan lampu kendaraan tampak seperti barisan semut pijar yang merayap di atas aspal basah sisa hujan sore tadi.

Di dalam ruangan yang senyap dan berhawa dingin itu, Yudia Pradipta menyandarkan punggungnya di kursi kulit hitam. Di atas meja kayu eboni yang luas, tergeletak satu map tebal bersampul merah tua yang sejak tadi menyita perhatiannya. Di pojok kanan atas map itu tertera nama entitas pemohon dana: PT Suryono Mandiri Karya. Lampiran profil direksinya memuat dua nama yang tak asing: Ir. Suryono dan Vera Suryono.

Yudia memutar pelan cangkir porselen putih berisi teh melati yang sudah dingin di sisi mejanya. Aroma melati yang samar berbaur dengan hawa pendingin udara, mendadak menarik kesadarannya melompat jauh ke belakang—melintasi waktu satu dekade yang penuh sayatan dan pembuktian.

Kilas balik itu selalu diawali dari derit seng berkarat dan secangkir teh di atas lantai semen yang retak…

Sepuluh tahun yang lalu, aroma tanah basah menguar dari sela retakan semen di teras rumah Yudia di pinggiran kota kecilnya. Hujan baru saja reda, menyisakan ketukan air dari atap seng dapur yang jatuh berirama menghantam ember plastik hitam. Di kursi kayu jati tua yang pliturnya telah buram dimakan rayap, duduk Vera.

Gadis itu mengenakan kardigan kasmir berwarna krem lembut. Sepatu hak rendahnya menggantung beberapa senti di atas lantai teras, seolah berhati-hati agar debu halus dari semen tak mengotori kulit sepatunya.

Bu Masnah keluar membawa baki seng bermotif bunga kembang sepatu. Dua cangkir teh melati panas dengan butiran gula pasir yang belum larut sempurna disajikannya dengan hati-hati. Dari dalam rumah, terdengar derak engsel pintu belakang—tanda Pak Masnan baru saja kembali dari sawah sewaan, menyandarkan cangkul dan caping usangnya di dinding bata tanpa plester.

“Diminum dulu, Neng Vera. Cuma ada teh manis sama singkong rebus hasil kebun belakang,” tutur Bu Masnah dengan senyum tulus yang membentuk garis-garis keriput di sudut matanya.

Vera membalas dengan senyuman paling tipis yang sanggup ia buat. “Terima kasih banyak, Tante.”

Namun, hingga Bu Masnah kembali masuk ke dalam, cangkir itu bergeming. Uap panasnya perlahan lenyap ditiup angin petang.

“Yud,” suara Vera memecah sunyi. Nada bicaranya teramat halus dan santun, namun menyimpan jarak yang dingin.

“Iya, Ra?”

Pandangan Vera menyapu pekarangan depan—pada deretan serumpun bambu kuning di batas tanah, pada pagar bambu yang doyong terikat kawat berkarat, dan pada motor bebek butut milik Yudia yang knalpotnya ditambal seng.

“Kamu lihat rumpun bambu di depan itu, Yud?” tanya Vera pelan.

Yudia menoleh sekilas, lalu kembali menatap mata gadis itu. “Kenapa dengan bambu itu?”

Vera tersenyum samar, jemarinya merapikan tali tas bermerek di pangkuannya. “Pernah ada yang bilang, anak bambu itu bisa tumbuh lurus dan kokoh menjulang tinggi karena sejak awal ditopang oleh indukan yang kuat di bawahnya. Tanahnya gembur, akarnya menyatu, dan rumpun lamanya memberi perlindungan.”

Vera menatap Yudia lurus-lurus. Tatapan matanya jernih, tanpa amarah, justru dipenuhi rasa iba yang membekukan darah.

“Papa kemarin sempat menanyakan masa depan kita, Yud. Dan aku cuma bisa teringat hal itu. Hidup di kota besar bukan cuma soal niat baik. Kamu orang baik, kamu tekun. Tapi di dunia tempat aku dibesarkan, anak bambu yang tumbuh sendirian di tanah tandus tanpa sokongan indukan yang kuat akan patah begitu diterjang angin pertama. Papa butuh menantu yang datang dari rumpun yang sepadan, bukan yang harus memikirkan atap bocor tiap kali musim hujan tiba.”

Tidak ada makian. Tidak ada bentakan kasar. Kalimat itu meluncur dengan tata krama seorang putri terpelajar, namun maknanya meremukkan harga diri Yudia seketika. Rasanya seperti ditikam jarum es tepat di ulu hati.

Sebelum Yudia sempat merangkai kata, klakson sedan hitam mengilap milik keluarga Vera berbunyi pelan di ujung gang. Supir pribadinya turun membukakan pintu mobil.

Vera bangkit berdiri. Ia menoleh sekali lagi dengan senyum anggun. “Tehnya harum sekali, Yudia. Titip salam untuk Ibu dan Bapak. Semoga kamu menemukan jalanmu sendiri, ya.”

Pintu mobil tertutup rapat dan kedap. Sedan itu melaju mulus membelah kubangan jalan gang, menyisakan Yudia yang duduk mematung di beranda retak. Di sampingnya, cangkir teh melati itu telah dingin sepenuhnya tanpa pernah disesap seteguk pun.

Malam itu, Yudia menatap kedua orang tuanya. Pak Masnan duduk bersila meluruskan kakinya yang dipenuhi sisa lumpur kering, sementara Bu Masnah tengah menjahit sarung suaminya yang koyak di bawah temaram lampu pijar lima watt. Tangan renta itu bergetar pelan memasukkan benang ke lubang jarum—dua jiwa bersahaja yang telah membanting tulang seumur hidup agar Yudia bisa mengantongi ijazah SMA.

Di sudut ruangan lembap itu, Yudia mengepalkan jemarinya kuat-kuat. Ucapan Vera terus berputar di telinganya: anak bambu hanya tumbuh kokoh karena ditopang indukan yang kuat.

Malam itu juga, sebuah tekad lahir dalam diam. Jika ia tidak terlahir dari rumpun yang megah, maka dialah yang akan berdiri menancapkan akar paling dalam ke perut bumi, menahan badai apa pun, dan menjadi indukan yang paling kokoh bagi keluarganya.

Dua pekan kemudian, berbekal satu tas kanvas kusam, Yudia bersujud di telapak kaki Pak Masnan dan Bu Masnah. Dengan linangan air mata dan doa restu yang tulus, ia melangkah meninggalkan desanya menuju ibu kota.

Ibu kota tidak menyambutnya dengan kemudahan. Di tahun-tahun awal, hidup Yudia adalah ritme melelahkan yang berulang tanpa jeda. Dari fajar hingga petang, ia bekerja serabutan di pusat percetakan dan fotokopi dekat stasiun, mengangkat rim-rim kertas berbobot puluhan kilo hingga telapak tangannya menebal dan kapalan. Begitu lampu jalan mulai menyala, ia mencuci muka di wastafel umum, mengganti kausnya dengan kemeja katun murah, lalu berlari mengejar bus kota menuju kampus swasta di pinggiran Jakarta untuk kuliah kelas karyawan.

Kamar indekosnya berukuran dua kali tiga meter, beratap asbes yang terasa seperti pemanggang di siang hari dan menjadi lemari pendingin di malam hari. Di atas kasur kapuk tipisnya, Yudia sering terjaga hingga pukul dua pagi ditemani aroma balsem pelemas otot dan satu mangkuk mi instan, membaca buku akuntansi dan analisis pasar modal.

Ketika rasa kantuk dan putus asa menyergap, ia hanya perlu menatap amplop kecil berbau tembakau kering kiriman bapaknya—berisi lembaran uang ribuan lusuh hasil panen singkong, lengkap dengan catatan tangan ibunya yang terbata-bata: “Jangan lupa salat, Nak. Doa Bapak dan Ibu selalu menyertaimu.”

Ketekunan yang ditempa keringat itu perlahan membuka jalan. Berbekal predikat lulusan terbaik dan daya tahan mental yang tak biasa, Yudia diterima sebagai analis junior di sebuah firma konsultan keuangan asing. Sembilan tahun kemudian, rekam jejaknya dalam menyelesaikan restrukturisasi utang korporasi membawanya dipercaya menduduki kursi Managing Director di konsorsium investasi regional, Samudera Capital.

Ketukan pelan di pintu kaca memecah lamunannya.

Yudia mengerjapkan mata, kembali menatap pantulan dirinya di jendela kaca lantai tiga puluh empat. Bayangan indekos sempit dan jalanan becek itu memudar, digantikan oleh bayangan pria matang berjas rapi yang telah membeli lunas martabatnya.

“Pak Yudia,” suara Maya, sekretarisnya, terdengar dari ambang pintu. “Berkas PT Suryono Mandiri Karya sudah selesai dikaji tim legal. Besok pagi pukul sembilan delegasi mereka akan hadir untuk presentasi akhir.”

Yudia menutup map merah tua di mejanya dengan tenang. “Pastikan berkas analisis arus kas proyek Karawang mereka diletakkan paling atas. Saya ingin melihat langsung bagaimana mereka mempertanggungjawabkan angka-angkanya besok.”

“Baik, Pak.”

Pukul sembilan pagi tepat. Udara di ruang rapat utama lantai tiga puluh empat terasa sejuk dan kaku. Meja oval berlapis marmer hitam tertata rapi dengan map-map dokumen dan layar proyektor yang menyala siaga.

Pak Suryono duduk di salah satu sisi meja. Jas wol mahalnya tak lagi mampu menutupi pundaknya yang melorot lesu. Di sampingnya, Vera duduk dengan punggung tegak, namun kedua tangannya yang memangku map tampak saling meremas. Jantungnya berdebar keras sejak melihat nama Yudia Pradipta tercetak di papan jajaran direksi di lobi.

“Keluarga kita bertaruh segalanya di proyek Karawang ini, Vera,” bisik Pak Suryono dengan suara tercekat. “Kalau Samudera Capital menolak menalangi, bulan depan kurator bank akan menyita aset kita.”

Vera menelan ludah yang terasa pahit. Belum sempat ia menenangkan ayahnya, pintu ganda ruang rapat berderit terbuka pelan.

Dua analis senior melangkah masuk terlebih dahulu, disusul seorang pria bertubuh tegap dengan setelan jas abu-abu arang. Langkah kakinya mantap di atas karpet tebal, gerakannya tenang dan terukur, memancarkan otoritas seseorang yang terbiasa mengambil keputusan penentu arah korporasi.

Pak Suryono bergegas berdiri dengan punggung membungkuk hormat, menyodorkan tangannya. “Selamat pagi, Pak Yudia. Suatu kehormatan besar bagi kami bisa diterima di kantor Anda.”

Yudia menyambut uluran tangan itu dengan genggaman yang tegas dan proporsional. “Selamat pagi, Pak Suryono. Silakan duduk kembali.”

Pandangan Yudia bergeser sepersekian detik ke arah Vera.

Tatapan mata mereka bertemu. Tidak ada dendam yang berkilat, tidak ada seringai kemenangan di wajah pria itu. Sorot matanya begitu tenang dan berjarak—seperti menatap orang asing yang kebetulan berada di ruangan yang sama.

“Ibu Vera, selamat pagi,” sapa Yudia singkat, sekadar mengangguk formal tanpa mengulurkan tangan.

Vera merasa napasnya tertahan di kerongkongan. “S-selamat pagi, Pak Yudia…”

Presentasi berjalan selama hampir dua jam. Selama Pak Suryono memaparkan kondisi perusahaannya, Yudia menyimak dengan fokus penuh, sesekali mencatat dengan pulpen logamnya. Ketika gilirannya berbicara, Yudia tidak melontarkan satu pun kata yang merendahkan. Ia membedah kelemahan tata kelola keuangan, inefisiensi pengadaan material, dan beban utang jangka pendek PT Suryono Mandiri Karya secara dingin, lugas, dan teramat presisi.

“Secara finansial, risiko gagal bayar proyek Bapak berada di angka enam puluh persen,” tutur Yudia tenang seraya meletakkan pulpennya di atas meja. “Jika kami masuk sebagai investor penyelamat, beban terbesar ada di pundak kami.”

Pak Suryono mengusap keringat dingin di pelipisnya. “Kami mengerti, Pak Yudia. Namun reputasi nama keluarga kami selama puluhan tahun…”

“Di pasar modal hari ini, Pak Suryono, nama besar tidak bisa membayar bunga bank,” potong Yudia santun namun tegas.

Ruangan seketika senyap. Vera menundukkan kepala sedalam-dalamnya. Nada bicara yang dingin, terukur, dan tak terbantahkan itu persis seperti nada bicara yang digunakannya sepuluh tahun lalu di teras rumah Yudia. Kini, keadaan telah berputar seratus delapan puluh derajat.

Yudia merapikan berkas di hadapannya, lalu menatap Pak Suryono lurus.

“Namun, Samudera Capital memutuskan untuk tetap menyetujui pendanaan restrukturisasi ini.”

Pak Suryono terperanjat, matanya membesar dengan kelegaan yang luar biasa. “B-benar, Pak Yudia?”

“Dengan syarat mutlak: pelepasan hak kendali keuangan kepada tim manajemen interim kami sampai rasio kas kembali sehat,” tegas Yudia. “Sekretaris saya akan menyerahkan draf perjanjiannya hari ini. Jika Bapak sepakat, tim legal bisa menyelesaikannya siang ini.”

“Kami sepakat, Pak Yudia. Kami sangat sepakat. Terima kasih banyak,” ujar Pak Suryono dengan suara bergetar haru.

Seusai penandatanganan awal dan berkas dirapikan, Pak Suryono pamit lebih dulu menuju ruang legal didampingi oleh staf analis Samudera Capital.

Vera sengaja memperlambat langkahnya. Begitu pintu tertutup dan ruangan hanya menyisakan mereka berdua, ia memberanikan diri berbalik dan melangkah mendekati meja Yudia.

“Yud…” panggilnya lirih.

Yudia yang sedang memasukkan tablet kerjanya ke dalam tas kulit menoleh perlahan. “Ada dokumen yang terlewat, Bu Vera?”

Panggilan “Bu Vera” itu terasa menghantam batinnya lebih keras daripada tamparan apa pun.

“Kenapa kamu tetap menyelamatkan perusahaan Papa?” tanya Vera dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Setelah apa yang aku katakan di rumahmu dulu… kenapa kamu masih mau membantu kami?”

Yudia menatap wanita di hadapannya sejenak, lalu berjalan mendekati dinding kaca besar yang bermandikan cahaya siang. Ia memandang ke bawah, menatap atap-atap gedung kota yang menjulang.

“Karena bisnis ini dijalankan dengan perhitungan logika, Bu Vera, bukan dengan dendam,” jawab Yudia pelan. Suaranya terdengar begitu damai. “Di bawah proyek Papa Anda, ada ratusan kepala keluarga buruh bangunan yang butuh kepastian upah untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Menghukum Papa Anda hanya untuk memuaskan luka masa lalu akan membuat saya menjadi orang yang sangat kerdil.”

Vera menunduk, meremas tas tangannya. “Aku… aku benar-benar salah menilai kamu, Yud. Soal anak bambu dan indukan waktu itu…”

Yudia tersenyum tipis—sebuah senyuman tulus dari seseorang yang telah memaafkan masa lalunya sepenuhnya tanpa menyisakan kepahitan.

“Ucapan Anda hari itu tidak salah sama sekali,” potong Yudia lembut. “Bambu memang butuh indukan yang kuat untuk menopang pucuknya. Tapi sore itu Anda lupa satu hal: rumpun yang paling rindang sekalipun, pada mulanya selalu berawal dari sebatang rebung kecil yang harus membelah tanah keras sendirian.”

Yudia melirik arloji di pergelangan tangannya.

“Saya permisi, Bu Vera. Jam sebelas ini saya harus menjemput Bapak dan Ibu saya di bandara. Pak Masnan dan Bu Masnah baru mendarat siang ini dari menunaikan ibadah haji, dan saya sudah berjanji menyeduhkan teh melati hangat untuk mereka di rumah kami.”

Yudia mengangguk dengan takzim, menyampirkan jasnya ke lengan, lalu melangkah mantap keluar dari ruang rapat tanpa sekali pun menoleh ke belakang.

Vera berdiri membeku seorang diri di tengah ruangan yang dingin itu. Melalui pantulan kaca jendela, ia menatap bayangan dirinya sendiri—menyadari bahwa di atas tanah tandus yang dulu ia remehkan, sebatang rebung kecil telah tumbuh menjadi pohon yang kokoh dan menaungi banyak orang, sementara rumpun megah kebanggaannya kini justru terselamatkan di bawah keteduhannya.

Posting Komentar untuk "Secangkir Teh di Beranda Retak"