Sajadah dan Lantai Marmer
Juli 1997. Krisis moneter mulai menjadi bisik-bisik tegang di kampus-kampus ibu kota, tapi di balai Desa Sukamaju, angin kaki gunung meredam segalanya. Sebuah truk engkel sewaan memuntahkan tujuh mahasiswa berserta ransel tebal, Walkman yang memutar kaset Dewa 19, dan tumpukan buku kiri yang diselipkan diam-diam di antara diktat kuliah. Mereka membawa idealisme usang dekade itu: keyakinan bahwa desa tertinggal sedang menunggu tangan-tangan cerdas kaum terpelajar untuk diselamatkan.
Maya, mahasiswi Ilmu Sosial Politik yang terbiasa berdebat soal represi rezim, menyapu pandangan dengan rahang mengeras. Lantai semen posko KKN yang berdebu dan bau kayu bakar dari dapur warga bukanlah arena yang ia inginkan. Baginya, ritme desa yang pasrah adalah bentuk kekalahan yang tak bisa ia toleransi.
Di desa itulah mereka bersinggungan dengan Zaki. Pemuda lokal berusia dua puluh dua, guru ngaji sukarela di surau tua ujung dusun. Zaki jauh dari gambaran pemuda desa yang lugu dan tanpa cacat. Kulitnya gelap terbakar matahari, kemeja batiknya memudar di bagian kerah, dan seringkali ia berbicara dengan jeda yang canggung. Ada garis keras kepala di rahangnya, seolah ia sadar posisi tawar orang desa di mata mahasiswa kota, namun menolak untuk diintimidasi.
Teman-teman Maya dengan cepat menjadikan Zaki "pemandu wisata" gratis mereka. Ia menunjukkan batas tanah desa tanpa mengeluh, menjadi kamus hidup untuk silsilah warga, dan kerap meletakkan sebakul ubi cilembu di teras posko selepas magrib tanpa banyak bicara.
Hanya Maya yang menjaga jarak. Saat teman-temannya sibuk mencatat penjelasan Zaki soal irigasi, Maya lebih suka menggeser duduknya, pura-pura larut dalam draf laporannya. Ia tak suka cara Zaki menatap—tenang, tanpa sedikit pun kekaguman pada gelar akademis mereka. Bagi Maya, ketenangan Zaki adalah bentuk arogansi lokal yang menjengkelkan.
Ketegangan itu memuncak pada minggu keempat. Hujan turun tak henti sejak siang. Mesin tik pinjaman dari kelurahan macet total. Draf Laporan Analisis Potensi Desa—syarat mutlak kelulusan program—harus diserahkan ke kecamatan besok pagi pukul delapan. Jarak ke kecamatan belasan kilometer menembus jalan tanah berbatu yang kini berubah menjadi lumpur setinggi mata kaki. Angkutan desa sudah lenyap sejak asar.
Kepanikan menyergap posko. Argumen pecah antara Maya dan Dimas. Tak satu pun berani menerobos gelap dan licinnya jalur hutan pinus. Kegagalan berarti mereka pulang membawa nilai C.
Di tengah keriuhan itu, sosok Zaki muncul di ambang pintu, basah kuyup dengan jas hujan ponco murahan. Ia bahkan tak masuk ke dalam.
"Mang Jaja, tukang ketik di kecamatan, biasanya belum tidur jam segini. Masih bisa diakali kalau cuma benerin pita sama ngetik ulang dua lembar," suara Zaki memotong kepanikan. "Kasih drafnya. Biar saya yang turun."
Maya menatap tajam. "Kamu tahu jalannya hancur, kan? Motor Prima tuamu itu bisa mogok di tengah hutan."
"Saya lebih hafal jalan itu daripada kamu hafal isi bukumu, Mbak Maya," sahut Zaki pendek. Ada kilat harga diri yang terusik di matanya. Tanpa menunggu debat lanjutan, ia meraih map plastik dari tangan Dimas, menyelipkannya di balik jas hujan, lalu menghilang bersama deru mesin motor yang tersendat di tengah hujan.
Malam itu Maya tak bisa tidur. Hujan di luar seperti mengetuk-ngetuk nuraninya. Ia memutar kaset berkali-kali tanpa benar-benar mendengarkan lagunya.
Menjelang subuh, suara motor tua merobek kesunyian. Zaki kembali. Ujung celananya penuh lumpur tebal. Wajahnya kelelahan dan kotor, tapi map plastik itu diserahkannya kering tanpa cacat.
"Sudah beres," katanya singkat sambil menyerahkan map.
Dimas refleks merogoh dompet, mengulurkan beberapa lembar ribuan. Zaki melirik uang itu sedetik, rahangnya kembali mengeras. "Simpan saja buat beli bensin truk kalian pulang nanti," ucapnya pelan, namun nadanya menolak kompromi. Ia membalikkan badan dan berjalan gontai menembus kabut pagi.
Di situlah, dinding pertahanan Maya retak. Ia tak berlari mengejar atau menangis blak-blakan. Ia hanya berdiri mematung memandangi jejak sepatu bot berlumpur yang ditinggalkan Zaki di lantai posko. Hari-hari berikutnya, Maya mulai berlama-lama di surau. Ia tak lagi menghindar. Ia mulai memperhatikan cara tangan kasar Zaki membalik halaman kitab, cara pemuda itu menunduk saat berbicara. Ada pergeseran sunyi dalam dadanya; kekaguman yang lahir dari rasa bersalah.
Zaki menyadari perubahan itu. Ada keraguan dalam senyumnya, menyadari jurang tak kasatmata yang memisahkan mereka. Keterikatan mereka terbangun dari hal-hal yang tak terucapkan, di antara jeda waktu salat dan diskusi singkat di serambi surau yang mulai memudar catnya.
Desember 1997. Krisis moneter mulai mencekik kota. Demonstrasi mahasiswa pecah di mana-mana. Di tengah kekacauan ibu kota, Maya nekat membawa Zaki ke rumah keluarganya di kawasan Menteng. Sebuah pemberontakan ganjil yang didorong oleh ilusi bahwa cinta bisa mengebiri perbedaan kelas.
Di ruang tamu berpendingin udara yang suhunya diatur di angka dua puluh derajat, Zaki duduk di sofa kulit impor, mengenakan kemeja batik terbaiknya—batik yang kerahnya mulai berbulu. Ujung sepatunya yang telah disemir bersih menapak ragu di atas lantai marmer Italia yang dingin dan mengilap.
Di seberangnya, ayah Maya, seorang direktur bank swasta yang tengah pusing dihantam badai likuiditas, duduk dengan postur tegak. Tidak ada bentakan. Tidak ada pengusiran kasar ala drama televisi. Yang ada hanyalah percakapan santun yang mengoyak.
"Saya dengar kamu mengajar ngaji di surau," ujar ayah Maya sambil menyesap teh Chamomile-nya pelan. "Pekerjaan mulia. Tapi di tengah situasi negara seperti sekarang, inflasi melonjak dua puluh persen. Kemuliaan tidak bisa membayar cicilan rumah atau biaya pendidikan anak di kota. Kamu punya rencana spesifik selain surau itu, Nak Zaki?"
Maya mencoba menyela, membicarakan soal potensi desa, soal dedikasi. Ayahnya merespons dengan anggukan pelan namun matanya menatap Zaki, mengunci pemuda itu dalam kalkulasi matematis yang tak terbantahkan. Ibunda Maya duduk di kejauhan, memandangi Zaki dengan tatapan kasihan yang justru lebih melukai daripada kebencian.
Zaki menunduk. Ia menatap bayangannya sendiri yang terpantul buram di lantai marmer yang mengilap sempurna. Ia tiba-tiba merindukan kasar dan hangatnya anyaman sajadah di suraunya. Di ruangan ini, ia hanyalah anomali yang dipaksakan masuk. Idealisme Maya yang meletup-letup tak akan cukup untuk melindunginya dari kenyataan ini.
Pukul sembilan malam, mereka berdiri di teras rumah berpagar tinggi itu. Taksi argo pesanan ayah Maya sudah menunggu di depan pagar.
Zaki menoleh pada Maya. Ia tak memegang tangan gadis itu. Jarak di antara mereka malam itu terasa lebih jauh dari jarak ibu kota ke kaki gunung.
"Ayahmu benar, Maya," suara Zaki nyaris berbisik, menembus kebisingan knalpot kendaraan di jalan raya. "Di desa, kamu merasa menemukan jawaban atas buku-bukumu. Tapi saya bukan teori untuk diuji coba di ruang tamu ini."
"Zaki, ini hanya soal waktu..." suara Maya tertahan.
Zaki menggeleng pelan, tersenyum pahit. "Marmer ini terlalu dingin untuk kaki saya. Biarkan surau tua itu tetap jadi tempat saya pulang."
Taksi melaju menembus malam ibu kota yang gelisah. Maya tertinggal di balik pagar besi, menyadari untuk pertama kalinya: dunia ini tak dibangun oleh cinta, melainkan oleh garis-garis struktur kelas yang telanjur dicetak tebal, menunggu untuk mematahkan siapa saja yang nekat melompatinya.

Posting Komentar untuk "Sajadah dan Lantai Marmer"
Posting Komentar