Menjaga yang Tak Terlihat



Pukul sepuluh malam.

Lampu ruang tamu masih menyala ketika Arman menatap layar ponselnya untuk kesekian kali. Jempolnya bergerak cepat, membuka satu video, lalu berpindah ke video lain. Setelah itu membaca berita singkat, membalas pesan, lalu kembali menggulir tanpa tujuan.

Tiba-tiba ia meletakkan ponsel di meja.

“Aneh,” gumamnya.

“Apa yang aneh?” tanya istrinya, Rina, dari ruang makan.

“Aku lupa mau ambil apa ke dapur.”

Rina tersenyum kecil. “Itu sudah ketiga kalinya hari ini.”

Arman tertawa hambar.

Usianya baru empat puluh tujuh tahun. Terlalu muda untuk disebut pikun, pikirnya. Namun akhir-akhir ini ia sering lupa. Lupa menaruh kunci motor. Lupa nama orang yang baru ditemuinya minggu lalu. Bahkan pernah lupa alasan membuka lemari es.

“Ayah juga tadi lupa naruh kacamata,” celetuk Alif, putranya yang duduk di bangku SMA.

“Wajar. Ayah banyak pikiran.”

“Masalahnya kacamata itu sedang dipakai Ayah.”

Ruang tamu langsung pecah oleh tawa.

Arman ikut tertawa, meski di dalam hati ada kegelisahan yang sulit dijelaskan.


Keesokan harinya, di sela waktu istirahat kantor, Arman mampir ke perpustakaan daerah yang letaknya tak jauh dari tempat kerjanya.

Sudah bertahun-tahun ia tidak masuk ke tempat seperti itu.

Ruangan itu sunyi.

Hanya suara pendingin udara dan bunyi halus lembaran kertas yang dibalik.

Di sudut ruangan duduk seorang lelaki tua berkacamata. Rambutnya putih seluruhnya, tetapi matanya terlihat hidup.

Arman mengambil sebuah buku lalu duduk tak jauh darinya.

Belum sampai lima menit membaca, tangannya refleks mencari ponsel.

Lelaki tua itu tersenyum.

“Sulit, ya?”

Arman menoleh.

“Maaf?”

“Fokus.”

Arman tertawa kecil.

“Kelihatan sekali?”

“Sangat kelihatan.”

Lelaki tua itu menutup bukunya.

“Nama saya Pak Surya. Pensiunan guru.”

“Arman.”

Pak Surya mengangguk.

“Kebanyakan orang hari ini kehilangan kemampuan duduk tenang dengan pikirannya sendiri.”

“Termasuk saya.”

“Bukan hanya Anda.”

Arman memandang tumpukan buku di hadapannya.

“Dulu saya suka membaca. Sekarang rasanya lima menit saja sudah gelisah.”

“Karena otak dipaksa hidup dalam kecepatan yang tidak wajar.”

Arman terdiam.

Kalimat itu terasa tepat.


Sejak pertemuan pertama itu, Arman mulai sering datang ke perpustakaan.

Bukan hanya untuk membaca.

Ia juga sering berbincang dengan Pak Surya.

Suatu sore, Pak Surya meletakkan secangkir kopi di meja.

“Tahukah kamu,” katanya, “otak itu seperti kebun.”

“Maksudnya?”

“Kalau tidak dirawat, rumput liar akan tumbuh di mana-mana.”

Arman tersenyum.

“Lalu membaca itu apa?”

“Memupuknya.”

“Kalau menulis?”

“Merapikannya.”

Jawaban itu membuat Arman tertawa.

“Sederhana sekali.”

“Karena memang sederhana.”

Pak Surya menatap rak-rak buku yang memanjang.

“Orang sering mencari obat mahal untuk menjaga kesehatan. Padahal otak punya kebutuhan yang berbeda. Ia ingin diajak bekerja.”



Atas saran Pak Surya, Arman mulai membuat kebiasaan baru.

Sepuluh menit membaca setiap pagi.

Sepuluh menit menulis setiap malam.

Awalnya terasa menyiksa.

Kalimat yang ia tulis pendek-pendek.

Kadang hanya dua baris.

Hari ini saya lelah.

Besok saya harus menyelesaikan laporan.

Itu saja.

Namun beberapa minggu kemudian sesuatu mulai berubah.

Ia lebih mudah berkonsentrasi saat rapat.

Lebih jarang lupa.

Pikirannya terasa lebih tenang.

Suatu malam, setelah menulis hampir satu halaman penuh, Rina menghampirinya.

“Lagi apa?”

“Menulis.”

“Novel?”

Arman tertawa.

“Belum. Baru berdamai dengan isi kepala sendiri.”

Rina membaca beberapa baris tulisannya.

“Aku baru tahu kamu menyimpan banyak pikiran.”

“Aku juga baru tahu.”


Bulan demi bulan berlalu.

Suatu sore Arman kembali ke perpustakaan.

Namun kursi yang biasa ditempati Pak Surya kosong.

Hari berikutnya juga kosong.

Begitu pula minggu berikutnya.

Hingga akhirnya petugas perpustakaan menghampirinya.

“Pak Surya sedang sakit.”

Arman merasa ada yang jatuh di dalam dadanya.

“Parah?”

Petugas itu mengangguk pelan.

“Usianya sudah delapan puluh tahun.”



Dua minggu kemudian Arman memberanikan diri menjenguk.

Pak Surya terbaring lemah di kamar sederhana.

Namun senyumnya tetap sama.

“Datang juga,” katanya.

Arman duduk di samping ranjang.

“Perpustakaan terasa sepi tanpa Bapak.”

“Perpustakaannya tetap sama. Yang berbeda hanya pengunjungnya.”

“Bapak masih bisa bercanda.”

“Kebiasaan lama.”

Mereka tertawa.

Setelah suasana tenang, Pak Surya memandang Arman cukup lama.

“Masih menulis?”

“Masih.”

“Masih membaca?”

“Setiap hari.”

Pak Surya mengangguk puas.

“Bagus.”

“Bapak yang mengajarkan semuanya.”

Lelaki tua itu menggeleng.

“Tidak. Saya hanya mengingatkan.”

“Mengingatkan apa?”

Bahwa manusia sering lupa merawat sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya.

“Apa itu?”

Pak Surya menunjuk pelipisnya sendiri.

“Yang ada di sini.”



Malam itu Arman pulang dengan perasaan yang berbeda.

Ia duduk di meja kerja.

Membuka buku catatan.

Mengambil pena.

Lalu mulai menulis.

Tentang seorang guru tua yang percaya bahwa membaca adalah cara memberi makan otak, dan menulis adalah cara membersihkan ruang-ruang yang sesak di dalam kepala.

Di luar, hujan turun perlahan.

Ponsel di samping meja berkali-kali menyala meminta perhatian.

Namun untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Arman tidak tergoda menoleh.

Ia memilih satu halaman buku.

Satu lembar kertas.

Satu pikiran yang utuh.

Dan di tengah dunia yang semakin bising, ia menemukan kembali sesuatu yang hampir hilang:

kemampuan untuk benar-benar hadir.

Bagi dirinya sendiri.

Dan bagi hidup yang sedang dijalaninya.


TAMAT



Tentang Penulis:

Mulyadi | ASN Pemerintah Kabupaten Sukabumi yang menaruh minat mendalam pada studi kebijakan publik, kepemimpinan transformatif, pengembangan diri (self-improvement), dan inovasi pelayanan masyarakat.




2 komentar untuk "Menjaga yang Tak Terlihat"

Comment Author Avatar
Merawat otak dengan membaca, membersihkannya dengan cara menulis, otak yang penuh membuat memori jadi loading, rahasia panjang umur.... manfaat bersilaturahmi dapat teman dan ilmu
Comment Author Avatar
panutann, selalu ada makna disetiap ceritanyaa