Mata Air di Balik Dipan Bambu
Gemercik air yang tumpah ruah dari puluhan keran tembaga di pelataran wudu itu selalu menghadirkan debar yang sama di dada Ustadz Cecep.
Dari serambi masjid pondok pesantren berdinding marmer yang megah itu, pandangannya menyapu hamparan halaman luas. Ratusan santri berpici putih tampak berbaris tertib berwudu, bersiap menyambut azan Asar yang sebentar lagi berkumandang. Pesantren yang kini diasuhnya telah tumbuh menaungi ribuan penuntut ilmu dari berbagai pelosok negeri.
Namun, setiap kali melihat air jernih membasahi lantai wudu tanpa jeda, kesadarannya selalu terlempar jauh melintasi waktu—dua puluh tahun ke belakang, ke sebuah surau panggung berdinding kayu jati lapuk di sudut kampung yang sunyi.
Dua dekade silam, air bukanlah berkah yang tinggal diputar ujung kerannya. Air adalah tebusan peluh, ketabahan raga, dan ketulusan belajar.
Kala itu, Ujang Cecep dan enam kawannya—Ajid, Aep, Dadang, Oman, Engkus, dan Umar—hanyalah bocah-bocah tanggung berseragam putih-biru. Bilik bambu rumah orang tua mereka di pelosok desa seolah hanya menjadi tempat singgah sejenak untuk menaruh buku atau meminta sebakul nasi. Rumah mereka yang sesungguhnya adalah emperan belakang surau tua milik Ajengan Sanusi. Di sanalah, di atas sebuah dipan bambu panjang yang selalu berderit reot tiap kali ada raga yang membalikkan badan, ketujuh bocah itu tidur berjejer beralas sarung kotak-kotak lusuh.
Meski hidup serbaprihatin, urusan belajar tak pernah mereka tawar. Jadwal mengaji di surau itu dijalani dengan disiplin baja: selepas Subuh menimba hafalan Al-Qur'an, sore hari selepas Asar menyerap kaidah fiqih dasar, melancarkan tajwid selepas Magrib, dan duduk bersila melingkari dampar kayu untuk setoran sorogan kitab kuning hingga larut malam. Rasa kantuk dilawan dengan membasuh muka berkali-kali. Sebelum fajar menyingsing pun, mereka sudah saling membangunkan demi mengulang pelajaran sekolah umum. Kesungguhan itulah modal tunggal anak-anak kampung yang tak berpunya: keyakinan teguh bahwa ilmu dan adab adalah satu-satunya jalan memuliakan hidup.
Ujian paling membekas terjadi ketika kemarau panjang membakar kampung selama berbulan-bulan. Sumur timba sedalam dua belas meter di samping surau mati suri, menyisakan lumpur hitam yang merekah retak. Kulah—bak wudu besar dari semen di depan surau—mengering hingga dasarnya berlumut kerontang. Orang-orang kampung mulai resah memikirkan air wudu untuk salat berjamaah.
Sore itu, sepulang sekolah dan mengaji Asar, ketujuh anak itu membulatkan tekad. Melihat Ajengan Sanusi yang sudah sepuh duduk memijit lututnya yang ngilu di beranda, mereka tak sampai hati membiarkan sang guru dan jemaah bertayamum berkepanjangan.
“Bawa semua jeriken dan lodong bambu!” seru Ajid kala itu.
Mata air Leuwi Leutik terletak hampir satu kilometer di dasar jurang cadas yang curam. Dengan corong daun talas liar, ketujuh anak itu mengalirkan tetesan air dari sela batu padas ke dalam jeriken bekas minyak dan ruas-ruas bambu tali berukuran besar.
Tantangan terberat adalah memikul beban itu menaiki tebing tanah merah yang licin dan berdebu. Pundak kurus mereka memerah menahan tekanan bilah bambu. Dadang dan Umar berjalan berhati-hati menjaga keseimbangan jeriken di ujung tanjakan, sementara Aep dan Oman saling menyemangati dengan lelucon di tengah desah napas yang memburu. Cecep dan Ajid melangkah di barisan depan dengan telapak kaki telanjang yang mencengkeram tanah liat kuat-kuat.
Tiga kali bolak-balik menuruni jurang terjal, bak wudu surau akhirnya terisi penuh hingga bibir semen. Senja itu, saat bedug Magrib dipukul bertalu-talu oleh Dadang, air jernih dari dasar ceruk padas menyegarkan wajah-wajah lelah para petani kampung yang datang berjamaah. Dari ambang pintu, Ajengan Sanusi menatap ketujuh santrinya dengan binar mata teduh yang dipenuhi doa tanpa suara.
Selepas wirid Isya, Ajengan Sanusi mengumpulkan mereka di serambi. Tangannya yang berurat membelai satu per satu kepala anak-anak itu.
“Urang mah teu boga harta, Jang,” tutur Ajengan Sanusi pelan namun menghunjam ke dasar dada. “Tapi salila hidep ikhlas diajar, nyaah ka elmu, jeung daek ripuh keur batur, Gusti moal matak nolak pamenta. Sing tekun ngaji, jaga lampah, pancegkeun niat.”
Malamnya, lapar menuntut haknya. Di sebidang tanah kosong di bawah pohon cengkih samping surau, Aep memimpin pembuatan perapian berbahan bakar ranting kering. Beras segantang yang mereka bawa adalah wujud rida dan pengorbanan orang tua masing-masing—sejumput beras yang disisihkan Emak dari jatah dapur yang sempit, dibungkus kain perca diiringi bisikan doa restu agar anak lelakinya menjadi orang berilmu. Beras itu ditanak di dalam kastrol seng legam yang pantatnya berkerak arang.
Ketika nasi liwet itu mendidih harum beraroma daun salam, Ajengan Sanusi datang membawakan dua ekor ikan asin peda goreng yang dibungkus daun pisang hangat.
Di atas lembaran daun pisang yang digelar di tanah, ketujuh anak itu makan beralas rasa lapar dan persaudaraan. Sambal goang mentah yang pedas dan gurihnya asin peda tandas tanpa sisa, diiringi derai tawa lepas yang menembus keheningan malam kemarau. Di sepertiga malam berikutnya, saat ketujuh anak itu terlelap pulas di atas dipan bambu emperan surau, dari balik jendela kamar Ajengan Sanusi, pendar lampu minyak tanah tetap menyala. Sang guru tua bersujud panjang, mengetuk pintu langit, melangitkan nama ketujuh muridnya dalam doa mustajab yang tak pernah mereka dengar secara langsung.
Kebersamaan di atas dipan bambu itu bukanlah episode persinggahan yang singkat. Enam tahun penuh—sejak pertama kali mengenakan seragam putih-biru hingga mengantongi ijazah putih-abu-abu—surau kayu itu menjadi rahim kedua bagi pertumbuhan mereka.
Ketika masa sekolah menengah tuntas, jalan hidup memanggil mereka untuk melangkah lebih jauh. Berbekal restu dari orang tua di rumah bilik dan doa yang dibisikkan Ajengan Sanusi di undakan tangga surau, ketujuh anak itu menyebar ke berbagai perguruan tinggi di kota.
Menembus bangku kuliah bagi anak-anak miskin bukanlah perkara mudah. Sebagian mengandalkan beasiswa bidik misi, sebagian lagi bertarung membiayai kuliahnya sendiri dengan menjadi marbot masjid kampus, buruh cuci cetak foto, hingga mengajar les privat dari rumah ke rumah. Mereka berpencar menyerap ilmu: teknik sipil, manajemen, keguruan, tata logistik, pengairan, agroteknologi, hingga ilmu syariah.
Di kota rantau yang bising dan asing, mental yang ditempa di emperan surau terbukti liat. Mereka tidak gentar jika harus makan sehari sekali atau tidur beralas tikar tipis di sudut musala kampus, sebab lapar, dingin, dan lelah sudah tuntas mereka pelajari di emperan bambu Sukamakmur. Bekal ilmu dan adab yang ditanamkan Ajengan Sanusi menjadi kompas moral yang membentengi mereka dari pergaulan bebas dan godaan jalan pintas.
Angin sore di pelataran pondok pesantren mendadak menyadarkan Ustadz Cecep dari lamunan panjangnya.
Ia menarik napas dalam-dalam seraya memandang langit senja yang mulai jingga. Dua puluh tahun telah berlalu, dan janji Ilahi terbukti nyata. Kesungguhan tekad belajar, cucuran keringat di masa muda, serta perjumpaan dua doa tulus—munajat Ajengan Sanusi di surau dan tangis doa orang tua di atas sajadah usang—telah mengantarkan mereka memetik buah kehidupan yang harum.
Benih ketangguhan itu kini tumbuh menaungi banyak orang lewat jalan yang berbeda-beda, namun dengan akar kepedulian yang serupa.
Ketukan palu dan adukan semen kini diakrabi Ajid. Bocah yang dulu memikul jeriken paling berat itu menjelma menjadi kontraktor yang memimpin proyek-proyek besar di ibu kota, tanpa pernah lupa mengirimkan bertruk-truk material untuk memugar sarana ibadah di pelosok. Di balik harumnya uap dapur jaringan rumah makannya, Aep meneruskan kepiawaian meracik liwet dengan menyediakan lapangan kerja bagi ratusan anak muda yang nyaris putus asa. Sementara itu, Dadang memilih setia di depan papan tulis sebagai kepala madrasah, menanamkan kelembutan adab yang dulu ia serap dari bilik sang guru sepuh.
Di jalur tata kelola, watak liat itu bekerja dalam senyap. Engkus, yang kakinya dulu tergelincir di tebing padas saat berebut air, kini mengawal pintu-pintu bendungan dinas pengairan agar tak ada lagi sawah petani yang meranggas kehausan. Ketelitian Oman menggerakkan rantai pasok korporasi logistik nasional, sedangkan Umar mendedikasikan hidupnya mendampingi ratusan petani mengelola koperasi perkebunan rakyat.
Tujuh anak yang dulu berebut selimut sarung di atas dipan bambu reot itu telah menemukan dermaga masing-masing. Tak satu pun dari mereka yang patah oleh badai kehidupan, sebab akar mereka telah tertancap sangat dalam di tanah keprihatinan dan disirami oleh rida guru serta orang tua.
Azan Asar mulai berkumandang merdu dari menara masjid pondok pesantren.
Ustadz Cecep merapikan jubah putihnya lalu melangkah perlahan menuju mihrab untuk memimpin salat. Di setiap langkahnya, ia menundukkan kepala dengan takzim. Ia menyadari sepenuhnya, kemuliaan dan ribuan santri yang diasuhnya hari ini bukan lahir dari ruang-ruang kemewahan, melainkan berhulu dari satu mata air abadi: sentuhan ikhlas tangan seorang guru sepuh di surau tua, doa hening seorang ibu di depan tungku dapur, serta peluh anak-anak remaja yang bersungguh-sungguh mengejar ilmu di atas derit dipan bambu.

Posting Komentar untuk "Mata Air di Balik Dipan Bambu"
Posting Komentar