Dua Ribu Rupiah untuk Emak
Bagi Ujang, aroma masa remaja di pertengahan dekade sembilan puluhan bukan wangi minyak rambut atau sabun mandi wangi, melainkan sengatan tajam bensin bercampur jelaga pekat pelumas mesin.
Siang itu, di ruas jalan aspal berbatu Kecamatan Sukamakmur, terik matahari membakar tengkuk. Keringat mengalir menyusuri pelipis Ujang, menetes ke kerah seragam putih-birunya yang mulai kumal. Dari arah belakang, suara tawa riang memecah keheningan jalanan berdebu. Tiga kawan sekelasnya melintas beriringan mengayuh sepeda jengki, tas sekolah mereka tergantung santai di setang.
“Duluan, Jang!” seru salah seorang dari mereka seraya mengayuh kencang menuruni turunan bukit.
Ujang tersenyum tipis dan melambaikan tangan, lalu melangkah merapat ke tepi semak agar tidak tersembur debu roda sepeda. Tidak ada setitik pun rasa iri di dadanya. Delapan kilometer jarak dari gerbang sekolah negeri menuju bengkel adalah jalan yang ia tempuh dengan sadar. Memangkas ongkos dua kali naik angkot berarti menyelamatkan lima ratus perak. Besok pagi adalah tenggat terakhir pelunasan iuran bulanan di sekolah, dan simpanan uang receh di celengan kalengnya masih kurang seribu lima ratus rupiah.
Begitu tiba di tepi jalan raya kecamatan, seragam putih-birunya lekas ia tanggalkan, dilipat rapi ke dalam tas kain yang digantung pada tiang kayu, berganti kaus oblong belel yang sobek di bagian bahu. Di pelataran bengkel motor beratap seng, Ujang berlutut di atas lantai semen yang legam oleh noda oli.
“Jang, tolong jaga bengkel sebentar,” seru Mang Endang seraya mengencangkan tali helm cetoknya di atas motor bebek tua. “Saya mau ambil kampas kopling titipan ke Pasar Sukasejahtera. Paling setengah jam. Kalau ada yang mau isi angin atau tambal ban biasa, tangani dulu.”
“Siap, Mang,” sahut Ujang.
Deru motor Mang Endang lekas ditelan kelokan jalan raya. Suasana bengkel mendadak sunyi, hanya menyisakan desis kompresor angin dan derit dedaunan bambu di lereng belakang. Ujang kembali menekuni tugasnya: mencuci rantai motor yang berkerak di dalam baskom seng berisi solar menggunakan sikat kawat usang.
Belum sempat rantai itu dibilas, suara decit rem yang kasar memecah kesunyian.
Seorang petani paruh baya bertubuh liat menuntun masuk sepeda motor Honda Astrea Prima yang sarat muatan. Dua keranjang rotan besar di jok belakang penuh sesak oleh tumpukan kubis dan cabai merah yang baru dipetik dari ladang. Napas petani itu memburu, pelipisnya basah oleh peluh dingin.
“Aduh, Jang… Mang Endang-nya ke mana?” tanya petani itu cemas seraya menyandarkan motornya pada standar samping. “Motor tiba-tiba mati di tanjakan Sukabetah. Batuk-batuk sebentar, terus mogok total. Jam enam ini sayur harus sudah sampai di pangkalan mobil pikap. Kalau telat, hangus pesanan orang pasar.”
Jantung Ujang berdegup kencang. Tangannya yang masih basah oleh solar menggantung di udara. “Mang Endang lagi ke pasar ambil onderdil, Mang. Paling sebentar lagi balik.”
Petani itu melirik arloji kuningan di pergelangan tangannya, lalu mengembuskan napas putus asa. “Tak sempat kalau menunggu. Kamu bisa tolong tengokkan dulu? Paling tidak biar mesinnya mau hidup sampai pangkalan.”
Ujang menelan ludah. Selama berbulan-bulan bekerja di bengkel setiap sepulang sekolah, pekerjaannya tak pernah melampaui tambal ban bakar, memompa, atau sekadar membersihkan perkakas. Namun, matanya tak pernah lepas memperhatikan gerak jemari Mang Endang saat membongkar mesin di hadapannya. Setiap ketukan martil dan bunyi klik perkakas sudah ia rekam baik-baik di kepala.
“Coba saya lihat businya dulu ya, Mang,” kata Ujang memberanikan diri.
Ia segera melangkah menuju papan tripleks di dinding. Jemarinya yang kurus menyambar kunci pas nomor sepuluh dan obeng kembang bergagang kayu.
Dengan cekatan, Ujang membungkuk di samping blok mesin yang masih memancarkan hawa panas. Kunci pas sepuluh ia pasang pada baut penutup legshield, memutarnya berlawanan arah jarum jam dengan sentakan mantap. Pelindung plastik itu terlepas, memperlihatkan silinder mesin yang tertutup debu jalanan. Menggunakan kunci busi, ia memutar logam pemantik itu keluar.
Ujung busi hitam pekat dan basah oleh sisa bensin yang tak terbakar sempurna.
“Banjir karburatornya, Mang. Pengapiannya juga terhalang kerak,” ujar Ujang, suaranya terdengar lebih mantap dari yang ia duga.
Waktu seolah berpacu dengan matahari yang kian melorot ke balik bukit Sukamakmur. Ujang mengambil secarik kertas amplas halus dari laci meja kayu. Dengan hati-hati, ia menggosok kepala busi hingga logamnya kembali berkilau bersih dari jelaga hitam. Ia lalu meniup spuyer kecil di karburator menggunakan slang udara bertekanan dari kompresor untuk membuang endapan kotoran.
Tangannya bergerak cepat, lincah, dan penuh perhitungan. Ketika memasang kembali busi ke sarangnya, ibu jari kirinya membentur tajamnya sirip pendingin blok silinder hingga kulitnya terkelupas perih. Ujang tak sempat meringis. Ia hanya mengusap darah yang merembes ke kain lap di pinggangnya, lalu mengencangkan baut penutup dengan kunci pas nomor sepuluh.
“Coba diselak, Mang. Kontak hidupkan,” pinta Ujang seraya mundur selangkah.
Petani itu menginjak pedal starter dengan sekuat tenaga.
Brem… brem… brem!
Suara knalpot seketika meraung teratur dan renyah. Asap putih tipis menyembur dari moncong pipa besi, membelah udara petang yang dingin. Petani itu terbelalak, lalu tersenyum lebar menampakkan giginya yang kuning oleh tembakau.
“Alhamdulillah! Hidup, Jang!” serunya girang seraya memutar selongsong gas beberapa kali untuk memastikan tarikannya padat.
Tepat saat itu, deru motor Mang Endang terdengar masuk ke pelataran bengkel. Mandor bengkel itu mematikan mesin, menatap heran ke arah Ujang yang masih memegang lap kotor, lalu beralih menatap motor sayur yang sedang meraung sehat.
Setelah petani itu menceritakan duduk perkaranya dengan penuh semangat, Mang Endang menatap Ujang lamat-lamat. Ada senyum samar yang tertahan di balik kumis lebat montir senior itu.
Petani sayur itu merogoh saku celananya, mengulurkan dua lembar uang kertas seribuan bergambar Danau Toba ke tangan Ujang. “Ini buat kamu, Jang. Nuhun pisan, kalau tidak ada kamu, rugi besar saya hari ini.”
Ujang tertegun. Ia melirik ragu ke arah Mang Endang.
“Terima, Jang,” kata Mang Endang pendek seraya menepuk pundaknya. “Itu hasil keringat dan kecerdasan tangan kamu sendiri.”
Uang kertas itu berpindah ke genggaman Ujang. Terasa hangat dan tebal di telapak tangannya. Kekurangan biaya BP3 yang mencemaskan kepalanya sejak pagi tadi seketika lunas di pelataran bengkel itu.
Sayup-sayup, suara bedug magrib dari kubah masjid agung kecamatan di seberang jalan mulai bertalu-talu.
Ujang bergegas ke bak penampungan air di sudut bengkel. Mengambil segenggam serbuk gergaji kayu halus yang dicampur sesendok sabun colek batangan, ia menggosok kedua belah tangannya kuat-kuat. Gesekan kasar serbuk kayu dan busa sabun meluruhkan lapisan minyak hitam yang membandel di pori-pori kulitnya, menyisakan garis hitam samar yang tertinggal di bawah kuku-kuku jarinya.
Selepas menunaikan salat magrib berjamaah, langkah kaki Ujang menembus kabut dingin menuju Kampung Sukabetah terasa jauh lebih ringan.
Di dalam rumah panggung berdinding bilik anyaman bambu, pendar kuning lampu teplok bergoyang pelan tertiup angin yang menyusup lewat celah dinding. Di sudut dapur beralas tanah liat, Emak sedang menuangkan air putih hangat ke dalam cangkir seng loreng. Wajah perempuan bersahaja itu tampak lelah sehabis seharian mencangkul rumput di ladang orang.
Ujang melangkah mendekat. Tanpa banyak kata, tangan mungilnya yang kasar merogoh saku dalam, mengeluarkan dua lembar uang kertas seribuan lecek hasil membetulkan busi tadi sore, lalu meletakkannya tepat di atas telapak tangan Emak yang kapalan.
“Buat nombokan bayar BP3 besok pagi, Mak. Tadi bantu benerin motor orang di bengkel,” bisik Ujang pelan.
Emak tertegun menatap lembaran rupiah di tangannya. Jarinya yang gemetar menggenggam erat uang tersebut. Matanya yang cekung seketika berkaca-kaca menahan haru. Tanpa berucap sepatah kata pun, tangan dingin Emak terangkat, mengusap rambut Ujang perlahan dan lama—sebuah doa tanpa suara yang melesat lurus menembus sunyinya malam Sukasejahtera.
Malam kian larut di perbukitan Sukamakmur.
Di atas bale-bale bambu beralas tikar pandan, buku catatan matematika terbuka lebar di hadapan Ujang. Tangan kanannya memegang pulpen dengan tegak, menggoreskan angka demi angka di atas lembar kertas putih bergaris. Kuku jempol kirinya—yang masih menyisakan goresan luka sirip pendingin dan sisa jelaga pelumas hitam yang tak habis terkikis sabun—menekan kuat tepi halaman, menjaganya agar tetap terbuka di tengah embusan angin malam yang berdesir pelan.
September 2026

Posting Komentar untuk "Dua Ribu Rupiah untuk Emak"
Posting Komentar