Menjadi Warga Dunia yang Pancasilais
Refleksi Menyambut Hari Lahir Pancasila
Oleh: Mulyadi
BAGIAN 1 — PEMBUKA
Beberapa hari terakhir, saya kembali merenungkan satu gagasan dari buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring : citizen of the world, atau warga dunia. Istilah ini sederhana, tetapi maknanya dalam. Ia mengingatkan bahwa manusia tidak hidup hanya untuk dirinya sendiri, kelompoknya sendiri, atau bangsanya sendiri. Manusia adalah bagian dari kehidupan yang lebih luas.
Dalam tradisi Stoisisme, manusia dipandang sebagai bagian dari satu komunitas moral. Kita boleh berbeda bangsa, suku, agama, bahasa, warna kulit, dan latar sosial, tetapi kita tetap sama-sama manusia. Perbedaan tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling merendahkan. Justru, perbedaan dapat menjadi jalan untuk saling mengenal dan saling menjaga.
Perenungan ini terasa relevan ketika kita menyambut Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni. Dalam pidato 1 Juni 1945, Bung Karno menempatkan Kebangsaan Indonesia berdampingan dengan Internasionalisme atau Perikemanusiaan. Artinya, nasionalisme Indonesia sejak awal bukan nasionalisme yang sempit, tertutup, dan angkuh. Cinta tanah air tidak boleh berubah menjadi kebencian kepada bangsa lain.
BAGIAN 2 — PANCASILA DAN ISLAM
Menjadi Pancasilais bukan hanya berarti hafal lima sila. Menjadi Pancasilais berarti menghidupkan nilai-nilai Pancasila dalam sikap sehari-hari: berketuhanan secara beradab, menjunjung kemanusiaan yang adil, menjaga persatuan tanpa menindas perbedaan, membiasakan musyawarah, dan memperjuangkan keadilan sosial. Pancasila mengajarkan kita untuk mencintai Indonesia, tetapi tetap menghormati martabat seluruh manusia.
Sebagai seorang Muslim, gagasan warga dunia juga memiliki dasar yang kuat. Al-Qur’an menyatakan bahwa Nabi Muhammad diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. Ini berarti seorang Muslim tidak cukup hanya saleh untuk dirinya sendiri. Ia juga dipanggil untuk menghadirkan kasih, keadilan, dan kemaslahatan bagi lingkungan yang lebih luas.
QS Al-Hujurat ayat 13 mengingatkan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Ayat ini tidak mengajarkan kesombongan identitas, melainkan kerendahan hati untuk memahami sesama. Kemuliaan manusia tidak diukur dari ras, keturunan, jabatan, atau status sosial, tetapi dari ketakwaan yang tampak dalam akhlak dan kebaikan.
Dalam khazanah Islam, gagasan ini dekat dengan ukhuwah insaniyah, yaitu persaudaraan sesama manusia. Seorang Muslim tentu memiliki persaudaraan dengan sesama Muslim dan sesama warga bangsa. Namun, ia juga tidak boleh melupakan persaudaraan dengan seluruh umat manusia. Ketiganya dapat berjalan bersama jika ditempatkan secara proporsional.
BAGIAN 3 — PENUTUP
Maka, menjadi Muslim yang baik, warga negara yang Pancasilais, dan warga dunia yang peduli bukanlah tiga hal yang saling bertentangan. Kita dapat mencintai agama tanpa merendahkan orang lain. Kita dapat mencintai Indonesia tanpa membenci bangsa lain. Kita dapat peduli kepada kemanusiaan tanpa kehilangan akar kebangsaan.
Menjadi warga dunia tidak harus dimulai dari hal besar. Ujian paling nyata justru sering hadir di tempat terdekat: keluarga, lingkungan rumah, tempat kerja, rumah ibadah, dan media sosial. Kita bisa memulainya dengan mengurangi prasangka, menjaga ucapan, membantu sesama tanpa memandang identitas, serta menggunakan ruang digital untuk menyebarkan keteduhan.
Pada akhirnya, citizen of the world bukanlah identitas yang membuat kita tercerabut dari tanah air. Ia justru mengingatkan bahwa akar yang kuat seharusnya membuat pohon tumbuh lebih tinggi dan memberi teduh lebih luas. Kita tetap boleh mencintai keluarga, kampung halaman, agama, dan bangsa. Namun, cinta itu tidak boleh menjadi tembok yang memisahkan kita dari kemanusiaan.
Hari Lahir Pancasila mengajak kita kembali merenungkan bahwa Indonesia dibangun bukan hanya untuk merdeka secara politik, tetapi juga untuk beradab secara moral. Pancasila, Islam, dan kebijaksanaan Stoisisme sama-sama mengingatkan bahwa manusia yang baik adalah manusia yang mampu memperluas kepedulian.
Menjadi warga dunia yang Pancasilais berarti menjadi manusia yang berakar kuat, tetapi berwawasan luas. Ia mencintai tanah airnya, tetapi tidak membenci dunia. Ia menjaga imannya, tetapi tetap menghormati martabat sesama. Ia bangga menjadi bagian dari Indonesia, sekaligus sadar bahwa tugas kemanusiaan tidak berhenti di batas-batas negara.
REFERENSI BACAAN SINGKAT:
- Henry Manampiring, Filosofi Teras: Filsafat Yunani-Romawi Kuno untuk Mental Tangguh Masa Kini, Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
- Stanford Encyclopedia of Philosophy, “Cosmopolitanism”: https://plato.stanford.edu/entries/cosmopolitanism/
- NU Online Quran, QS Al-Hujurat ayat 13: https://quran.nu.or.id/al-hujurat/13
- NU Online Quran, QS Al-Anbiya ayat 107: https://quran.nu.or.id/al-anbiya/107
- Yudi Latif, “The Religiosity, Nationality, and Sociality of Pancasila”, Studia Islamika.
Tentang Penulis :
Mulyadi | ASN Pemerintah Kabupaten Sukabumi. Seorang pembelajar yang aktif menuangkan gagasan tata kelola publik dan inovasi lokal demi mendukung kemajuan Kabupaten Sukabumi.

Posting Komentar untuk "Menjadi Warga Dunia yang Pancasilais"
Posting Komentar